Selasa, 18 Februari 2020

kisah nabi sulaiman raja termasyur

Filled under:

Kisah Nabi Sulaiman Raja Termasyur 
Dalam agama Islam, dijelaskan jika ada sekitar 124.000 orang Nabi yang 313 diantaranya adalah rasul. Namun menurut tuntutan agama, sebagai umat muslim Anda hanya perlu mengetahui 25 rasul.
Selebihnya, umat muslim hanya perlu mengimani keberadaannya dan tidak wajib untuk mengetahui siapakah nama-nama utusan Allah tersebut dan bagaimana kisahnya dalam menjunjung agama Allah.
Kisah 25 Rasulullah pun sangat beragam, dimana masing-masing Rasul memiliki mukjizat yang diberikan Allah untuk membantunya dalam kesulitan sekaligus sebagai bukti betapa agungnya Allah SWT.
Salah satu kisah yang paling menarik untuk dipelajari umat muslim adalah kisah Nabi Sulaiman. Nabi yang terkenal dengan kekayaannya ini merupakan salah seorang Rasulallah yang di berkahi mukjizat begitu menakjubkan.

Siapakah Nabi Sulaiman A.S?

Jika diurutkan dari 25 nama Nabi yang wajib diketahui, biasanya nama Nabi Sulaiman ada di urutan ke-18 atau lebih tepatnya setelah Nabi Daud A.S dan sebelum Nabi Ilyas A.S.
Nabi Sulaiman merupakan keturunan Rasul dan Raja, yakni Nabi Daud A.S. Dimana sebelum Nabi Sulaiman diangkat menjadi Rasul dan seorang memegang kerajaan terbesar di dunia, Nabi Daud merupakan pemegang kekuasaan tersebut dan juga merupakan seorang Rasulullah.
Kedua Nabi Allah ini diutus pada Bani Israil yang tinggal di Palestina kala itu. Keduanya memimpin Bani Israil dengan begitu baik dan bijaksana. Masa kepemimpinan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman pun berhasil membawa kemakmuran pada rakyatnya.

Keteladanan dan Keistimewaan Nabi Sulaiman

Sejak masih kanak-kanak, Nabi Sulaiman sudah memperlihatkan kecerdasan yang dimiliki lebih tinggi dibanding anak seusianya. Kemampuan berpikir dan kecakapan serta ketepatan pengambilan keputusan merupakan kelebihan Nabi Sulaiman yang sudah terlihat sejak usia dini.
Bahkan dalam usia yang masih bisa dikatakan cukup beli, Nabi Sulaiman sudah sering menengahi berbagai masalah yang kerap terjadi antar warga di kalangan Bani Israil. Beliau juga kerap kali ikut bersama Ayahnya dalam persidangan dalam proses menangani berbagai perselisihan yang muncul di kalangan Bani Israil.
Diajaknya Nabi Sulaiman ke majelis tersebut tentunya bukan tanpa alasan, melainkan keinginan Nabi Daud jika kelak yang bisa menggantikannya memimpin Bani Israil adalah Nabi Sulaiman.
Keputusan ini dipertimbangkan ayahnya karena memang Nabi Sulaiman memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan yang melebihi saudara-saudaranya termasuk kakaknya.
Satu kejadian yang menunjukkan betapa matangnya Nabi Sulaiman dalam menengahi perselisihan, yakni ketika ada sebuah persidangan dimana terdapat dua orang yang mendatangi Nabi Daud A.S untuk memutuskan perkara mereka. Sebut saja dua orang ini adalah si A dan B.
Kala itu kebun si A dimasuki oleh kambing-kambing si B pada malam hari, sehingga membuat kebun yang telah dirawatnya dengan baik menjadi rusak karena dimakan oleh kambing-kambing si B. Padahal kebun tersebut sudah memasuki masa panen.
Si B pun mengakui akan hal itu. Hingga Nabi Daud memutuskan agar si B harus menyerahkan kambing-kambingnya pada si A sebagai bentuk ganti rugi. Namun Nabi Sulaiman menganggap jika keputusan ayahnya tersebut kurang tepat. Kemudian beliau berkata pada ayahnya kurang lebih seperti berikut ini.
“Wahai ayahku, menurut pertimbanganku keputusan tersebut kurang tepat. Menurutku sebaiknya karena kambing si B telah memakan tanaman si A, maka si B wajib memugarkan (dengan ditanam kembali misalnya) kembali tanaman tersebut sehingga seperti sedia kala.
Dan selama si B mengerjakan demikian, maka si A harus menjaga kambing-kambing si B, merawatnya dan mengambil manfaat seperlunya.” Keputusan tersebut lantas diterima oleh kedua belah pihak baik yang menggugat maupun yang digugat. Kejadian ini membuat ayahnya beserta masyarakat Bani Israil semakin mengagumi kecerdasan Nabi Sulaiman.

Kerajaan Nabi Sulaiman A.S

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, jika Nabi Sulaiman telah disiapkan oleh Nabi Daud sejak masih belia untuk menggantikannya posisinya sebagai pemimpin Bani Israil. Absyalum yang merupakan kakak Nabi Sulaiman tidak terima jika dirinya harus di langkahi oleh adiknya sendiri.
Ia beranggapan jika ia lah yang seharusnya menjadi putera mahkota sebagai pewaris pertama kerajaan Bani Israil.
Dengan rasa benci dihatinya, Absyalum kemudian melakukan propaganda untuk menggulirkan ayahnya sendiri. Ia mengumpulkan pasukan yang terdiri dari masyarakat yang sudah dipengaruhi untuk menduduki istana.
Akan tetapi dengan berbagai usaha, kerajaan Bani Israil berhasil direbut kembali oleh Nabi Daud A.S. Sampai ketika Nabi Daud wafat, kemudian kerajaan tersebut diberikan pada Nabi Sulaiman A.S. Sejak itulah Nabi Sulaiman yang memimpin kerajaan sampai beliau wafat.

Mukjizat Nabi Sulaiman A.S

Mukjizat merupakan keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada utusannya. Termasuk Nabi Sulaiman yang memiliki mukjizat luar biasa.
Nabi Sulaiman sendiri dianugerahi beberapa mukjizat sekaligus oleh Allah SWT. Seperti dapat menguasai para jin, mampu mengetahui dan berbincang dengan binatang dan lainnya.
Keistimewaan seperti inilah yang pastinya tak bisa dimiliki oleh manusia biasa. Dengan kata lain mukjizat merupakan keistimewaan yang tak bisa dilakukan dengan akal nalar manusia biasa, dan hanya diberikan para orang-orang pilihan Allah SWT.
Beberapa mukjizat yang diberikan pada Nabi Sulaiman terdapat pada dua ayat Al’Quran berikut ini.
Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman” (An Naml: 15)
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata“(An Naml: 16).
Juga ada pada ayat berikut ini.
” Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. ” (Al-Anbiya: 81)
Seperti yang sudah dikatakan di atas jika Nabi Sulaiman mampu mengendalikan jin dan juga bisa berbicara pada hewan seperti burung. Mukjizat ini sudah Allah sampaikan pada surat AN Naml ayat 17.
“Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (An Naml: 17)
Pada surat lain di Al-Quran juga dijelaskan jika Nabi Sulaiman dapa mengendalikan angin.
“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Anbiya: 81)
Dalam ayat lain, dikisahkan jika pembangunan gedung-gedung pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman bukanlah manusia, namun dilakukan oleh bangsa jin (dalam Al-Qur’an menggunakan kata syaithn). Seperti yang difirmankan Allah pada ayat berikut.
“Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu,” (Al Anbiya: 81)

Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

Di surat An Naml inilah kisah antara Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dikisahkan secara lengkap.
Setelah bertanya, Nabi Sulaiman kemudian meminta agar burung Hud-Hud mengantarkan surat pada wanita atau ratu yang dimaksud tersebut (Ratu Balqis).
”Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan“ (QS. An Naml: 28)
Tak butuh waktu lama surat tersebut kemudian sampai dan dibaca oleh Ratu Balqis. Isi dari surat tersebut adalah.
“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, surat ini adalah daripadaku, Sulaiman. Janganlah kamu bersikap sombong terhadapku dan menganggap dirimu lebih tinggi daripadaku. Datanglah sekalian kepadaku berserah diri.”
Pada ayat berikutnya, Ratu Balqis memberitahukan pada pembesar-pembesar negerinya tentang surat tersebut.
“Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.“ (QS. An Naml: 29)
“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya) kandungan isi surah itu, (‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).” (QS. An Naml: 30)
(Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku, sebagai orang-orang yang berserah diri’)“. (QS. An Naml: 31)
“(Berkata dia, “Hai para pembesar! Berilah aku pertimbangan) dapat dibaca Al Mala-u Aftuni dan Al Mala-uwaftuni, maksudnya, kemukakanlah saran kamu sekalian kepadaku (dalam urusanku ini, aku tidak pernah memutuskan suatu persoalan) karena aku belum pernah memutuskannya (sebelum kalian berada dalam majelisku”) sebelum kalian semua hadir di majelisku ini.” (QS. An Naml: 32)
Mendengar pernyataan yang diberikan oleh Ratunya, kemudian para pembesarnya menjawab seperti yang tertulis pada ayat 33.
“(Mereka menjawab, “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan juga memiliki keberanian yang sangat) dalam peperangan (dan keputusan berada di tanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”) kami akan menaati perintahmu.” (QS. An Naml: 33)
Secara tersirat, para pembesar Ratu Balqis menyarankan agar mengangkat senjata, sebab secara kekuatan dirasa sanggup. Namun keputusan tetap ada pada tangan Ratu Balqis. Dan ia pun menjawab.
(Dia berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya) melakukan pengrusakan di dalamnya(dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pula yang akan mereka perbuat) yang akan dilakukan oleh para pengirim surah ini. (QS. An Naml: 34)
Keputusan Ratu Balqis ialah akan mengirimkan hadiah pada si pengirim surat tersebut. Pada saat itu Ratu Balqis dan para pembesar istana belum tahu Nabi Sulaiman A.S. Hadiah ini dikirim sebagai bentuk itiqad baik.
“(Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”) apakah mereka akan menerima hadiahku ini atau menolaknya.
Jika ia seorang raja niscaya ia akan menerimanya, jika ia seorang Nabi niscaya ia akan menolaknya. Kemudian ratu Balqis mengirimkan para pelayan lelaki dan perempuan yang jumlahnya dua ribu orang; separuh laki-laki dan separuh lagi perempuan.
Para utusan itu membawa lima ratus balok emas, sebuah mahkota yang bertatahkan permata, minyak kesturi, minyak anbar dan hadiah-hadiah lainnya beserta sebuah surah jawaban. Burung Hud-Hud segera terbang menuju ke Nabi Sulaiman untuk memberitakan kepadanya semua apa yang ia dengar dan saksikan itu.
Setelah Nabi Sulaiman mendapat berita dari burung Hud-Hud, maka segera ia memerintahkan pasukannya untuk membuat batu bata dari emas dan perak, hendaknya dari tempat ia berkemah sampai dengan sembilan farsakh dihampari permadani, kemudian di sekelilingnya dibangun tembok yang terbuat dari batu bata emas dan perak, kemudian ia memerintahkan kepada anak-anak jin supaya mendatangkan hewan darat dan hewan laut yang paling indah untuk ditaruh di sebelah kanan dan kiri lapangan dekat istana yang dibangunnya itu.” (QS. An Naml: 35)
Utusan Ratu Balqis pun kemudian sampai di istana Nabi Sulaiman. Melihat utusan Ratu Balqis, Nabi Sulaiman berkata sebagai berikut.
(Maka tatkala utusan itu sampai) utusan ratu Balqis yang membawa hadiah berikut dengan pengiring-pengiringnya(kepada Sulaiman. Sulaiman berkata, “Apakah patut kalian menolong aku dengan harta?, apa yang diberikan Allah kepadaku) berupa Kenabian dan kerajaan (lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepada kalian) yakni keduniaan yang diberikan kepada kalian (tetapi kalian merasa bangga dengan hadiah kalian itu) karena kalian merasa bangga dengan harta keduniaan yang kalian miliki. (QS. An Naml: 36)
Tanpa berfikir lama Nabi Sulaiman kemudian memerintahkan para utusan Ratu Balqis tersebut untuk kembali saja. Tak cukup disitu Nabi Sulaiman meminta ratu mereka agar mendatangi istana Nabi Sulaiman.
Dalam perintahnya tersebut Nabi Sulaiman juga memberi ancaman akan mengusir mereka dari negeri Saba’ (negeri mereka) apabila sang ratu tak mau datang ke istananya. Ancaman Nabi Sulaiman ini tersurat dalam ayat berikutnya.
Kembalilah kepada mereka) dengan hadiah yang kamu bawa itu (sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mempunyai kekuatan) tidak berdaya lagi (untuk melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu) dari negeri tempat tinggal mereka, yaitu negeri Saba’.
Negeri ini dinamai dengan nama kakek moyang mereka (dengan terhina dan mereka menjadi tawanan”) jika mereka tidak mau datang kepadaku dengan berserah diri. Ketika utusan itu kembali kepada ratu Balqis berikut dengan hadiah yang mereka bawa sebelumnya, ratu Balqis menempatkan singgasananya di dalam keratonnya yang berpintu tujuh, sedangkan keraton ratu Balqis berada di dalam tujuh keraton yang besar-besar.
Kemudian semua pintu-pintunya dikunci dengan rapat dan menugaskan sebagian bala tentaranya untuk menjaga keraton dan singgasananya. Setelah itu ia bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menghadap Nabi Sulaiman, untuk melihat apa yang bakal diperintahkan oleh Nabi Sulaiman kepada dirinya.
Berangkatlah ratu Balqis dengan membawa dua belas ribu pasukannya; menurut pendapat yang lain disebutkan bahwa jumlah tentara yang dibawanya pada saat itu sangat banyak, sehingga dari jarak satu farsakh dapat terdengar suara gemuruhnya. (QS. An Naml: 37)
Mengetahui ancaman yang dianggapnya tak main-main, lantas Ratu Balqis mengiyakan apa yang diperintahkan Nabi Sulaiman. Sesaat setelah mengetahui Ratu Balqis bersedia untuk memenuhi permintaannya, Nabi Sulaiman kemudian memerintahkan pada para pembesar istananya untuk membawa istana Ratu Balqis pada Nabi Sulaiman.
Meski terdengar cukup aneh dan tidak masuk akal, namun kisah ini benar terjadi dan sudah diceritakan dalam ayat selanjutnya.
“(Berkata Sulaiman, “Hai pembesar-pembesar! Siapakah di antara kamu sekalian) lafal ayat ini dapat dibaca secara Tahqiq dan dapat pula ia dibaca secara Tas-hil sebagaimana keterangan sebelumnya (yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”) yakni taat dan tunduk kepadaku. Maka aku harus mengambil singgasananya itu sebelum mereka datang, bukan sesudahnya.” (QS. An Naml: 38)
Permintaan yang bisa dikatakan cukup mustahil dilakukan oleh manusia biasa seperti kita ini kemudian disanggupi oleh Jin Ifrit. Ia bersedia mendatangkan istana Ratu Balqis dengan jarak waktu antara Nabi Sulaiman duduk hingga berdiri dari singgahsananya.
“(Ifrit dari golongan jin berkata,) yakni jin yang paling kuat lagi keras (“Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu) dari majelis tempat ia melakukan peradilan di antara orang-orang, yaitu dari mulai pagi sampai tengah hari (dan sesungguhnya aku benar-benar kuat) untuk membawanya (lagi dapat dipercaya.”) atas semua permata dan batu-batu berharga lainnya yang ada pada singgasananya itu. Maka Nabi Sulaiman berkata, “Aku menginginkan yang lebih cepat dari itu”.” (QS. An Naml: 39)
Mendengar kesanggupan jin Ifrit, Ashif Ibnu Barkhiya yang merupakan salah seorang sepupu Nabi Sulaiman dan seorang pria sholeh mengatakan jika dirinya sanggup memindahkan istana Ratu Balqis hanya dalam sekejap mata. Ashif Ibnu Barkhiya ini juga dikenal sebagai juru tulis Nabi Sulaiman.
(Seorang yang mempunyai ilmu dari Al kitab) yang diturunkan (berkata,) ia bernama Ashif ibnu Barkhiya; dia terkenal sangat jujur dan mengetahui tentang asma Allah Yang Teragung, yaitu suatu asma apabila dipanjatkan doa niscaya doa itu dikabulkan (“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”) jika kamu tujukan pandanganmu itu kepada sesuatu.
Maka Ashif berkata kepadanya, “Coba lihat langit itu”, maka Nabi Sulaiman pun menujukan pandangannya ke langit, setelah itu ia mengembalikan pandangannya ke arah semula sebagaimana biasanya, tiba-tiba ia menjumpai singgasana ratu Balqis itu telah ada di hadapannya.
Ketika Nabi Sulaiman mengarahkan pandangannya ke langit, pada saat itulah Ashif berdoa dengan mengucapkan Ismul A’zham, seraya meminta kepada Allah supaya Dia mendatangkan singgasana tersebut, maka dikabulkan permintaan Ashif itu oleh Allah.
Sehingga dengan seketika singgasana itu telah berada di hadapannya. Ibaratnya Allah meletakkan singgasana itu di bawah bumi, lalu dimunculkan-Nya di bawah singgasana Nabi Sulaiman. (Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak)telah berada (di hadapannya, ia pun berkata, “Ini).
Yakni didatangkannya singgasana itu untukku (termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku)untuk menguji diriku (apakah aku bersyukur)mensyukuri nikmat, lafal ayat ini dapat dibaca Tahqiq dan Tas-hil (atau mengingkari) nikmat-Nya.
(Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya) artinya pahalanya itu untuk dirinya sendiri (dan barang siapa yang ingkar) akan nikmat-Nya (maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya) tidak membutuhkan kesyukurannya (lagi Maha Mulia”) yakni tetap memberikan kemurahan kepada orang-orang yang mengingkari nikmat-Nya. (QS. An Naml: 40)
Benar, dalam sekejap mata istana Ratu Balqis sudah berada di hadapan Nabi Sulaiman, dan beliau kemudian berkata.
(Dia berkata, “Ubahlah baginya singgasananya) yaitu bentuknya sehingga bila kelak ia melihatnya tidak yakin bahwa singgasana itu miliknya sendiri, (maka kita akan melihat apakah dia mengenal) yakni dapat mengetahuinya (ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenalnya”) tidak mengetahuinya karena telah mengalami perubahan.
Nabi Sulaiman sengaja melakukan hal ini untuk menguji kecerdasan akalnya, karena menurut kata orang-orang dia berakal cerdas. Maka mereka segera mengubah singgasana itu dengan cara menambahi dan mengurangi serta memoles bagian-bagiannya. (QS. An Naml: 41)
Selesainya perombakan istana tersebut, Ratu Balqis dan pasukannya tiba di tempat Nabi Sulaiman. Kaget bukan main ketika ia melihat istana yang ada di hadapannya sangat mirip dengan istananya yang ada di negeri Saba’. Padahal selama ini Ratu Balqis selalu berfikir jika ialah pemilik istana terindah.
Ketika ditanya oleh Nabi Sulaiman A.S: “Seperti inikah singgasanamu?”
Dengan terperanjat Ratu Balqis kemudian menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku” dan kemudian Ratu Balqis dipersihlahkan untuk masuk ke istana Nabi Sulaiman. Peristiwa ini membuat Ratu Balqis takjub dan sadar akan kekurangannya. Ia pun lantas memohon maaf atas kekhilafannya selama ini. Sejak bertaubatnya Ratu Balqis, diketahui ratu negeri Saba’ ini kemudian diperistri oleh Nabi Sulaiman A.S.

Sumber :
https://moondoggiesmusic.com/kisah-nabi-sulaiman/